Kamis, 24 Oktober 2013

Jurnal Air Mata Terakhir bunda

Jurnal Air Mata Terakhir bunda
ABSTRAK
Pada saat ini, bencana alam merupakan suatu hal yang tidak dapat dihindari. Baik sengaja maupun tidak, terkadang orang merasa tidak ambil pusing terhadap para korban bencana alam tersebut. Luapan lumpur yang terjadi di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur mungkin potret tragedi nasional yang lahir karena kecerobohan dan keserakahan. Lumpur lapindo yang belum juga terselesaikan menjadi latar belakang novel Air Mata Terakhir Bunda. Kisah sebuah keluarga yang menjadi korban lumpur lapindo. Perjuangan seorang ibu mempertahankan hidup keluarganya, pengorbanan besar demi anaknya tercinta. Kelembutan, ketulusan dan kejujuran sang ibu dapat memberikan kehidupan yang lebih baik di masa depan. Seorang wanita yang mampu memberikan keperkasaan dalam menjalani hidup, dan itulah yang membuat ibunya menjadi ratu di singgasana hati sang anak, dan tak bisa tergantikan walau ia segera menikah dengan wanita lain yang juga akan menjadi ratu di hatinya. Kemampuan menjalani perjalanan hidup yang sulit dari seorang ibu yang baik sangatlah penting bagi pembelajar kelak.
 Tindakan-tindakan dan dampak sosial yang harus mereka alami dan jalani dari lingkungannya yang ia dan anak-anaknya rasakan dalam  kegiatan sehari-hari. Menumbuhkan kesadaran pembaca dalam menghadapi sebuah realita kehidupan. Namun, kehidupan saat ini masih dirasakan konvensional, dimana manusia masih sering tidak bersyukur terhadap apa yang telah ia peroleh secara cuma-cuma. Pembelajar dalam novel AMTB membuat suatu renungan langsung tanpa proses yang sulit. Seringkali topik dalam novel diberikan terbatas sehingga kurang menarik, tidak menantang eksplorasi, kehilangan unsur inovasi dan kreasi. Namun sastra itu tampil sebagai cerminan sosial bagi masyarakat dan nilai-nilai sosial kemanusiaan terdapat dalam novel Air Mata Terakhir Bunda. Jurnal ini dibuat agar pembaca lebih dapat memahami maksud dari cerita tersebut. Menambah referensi bagi penelitian sosial (humaniora) untuk mendalami dan memahami kehidupan manusia dalam bermasyarakat. Metode penulisan yang digunakan adalah, dimana penulis menggunakan sebuah novel sebagai bahan untuk jurnal ini.
Secara keseluruhan jurnal yang meneliti novel Air Mata Terakhir Bunda ini dapat menambah kajian sastra dengan menerapkan teori sosiologi sastra. Memperkuat teori penelitian sastra sebagai bagian yang sama pentingnya dengan kajian sosial lainnya demi mengambil peranan dalam meningkatkan tatanan masyarakat yang lebih beradab. Mempermudah pembaca dalam menghayati, memperluas wawasan pembaca dalam berbagai hal dan menjadi inspiring bagi pembacanya.

PENDAHULUAN
“Karya sastra merupakan cermin dari sebuah realitas kehidupan sosial masyarakat. Dikatakan oleh Taine (dalam Endraswara, 2008:17) “sastra tidak hanya sekedar karya yang bersifat imajinatif dan pribadi, tetapi dapat pula merupakan cerminan atau rekaman budaya, suatu perwujudan pikiran tertentu pada saat karya itu dilahirkan”. Hal ini berarti setiap orang dapat melihat realitas sosial dalam sebuah  karya sastra bahkan sebagian karya sastra menjadi representasi terhadap kebudayaan masyarakat tertentu. Uraian ini menunjukkan bahwa karya sastra  tidak lahir begitu saja. Semua hal yang terangkum dalam karya sastra tidak terlepas dari berbagai problematik yang dialami manusia baik secara pribadi maupun secara kolektif. Disadari atau tidak karya sastra menjadi model bagi kehidupan pembaca. Setiap persoalan maupun gambaran hidup yang dialami tokoh dalam cerita  akan menimbulkan permenungan atau refleksi bagi pembaca dalam menentukan sikap dan tindakannya dalam kehidupan bermasyarakat. Hal inilah yang menguatkan teori bahwa penelitian sastra merupakan penelitian tentang manusia dalam masyarakat atau lebih erat dengan istilah sosiologi.
Sosiologi sastra adalah penelitian terhadap karya sastra dengan mempertimbangkan keterlibatan struktur sosialnya, sehingga penelitian sosiologi sastra, baik dalam bentuk penelitian ilmiah maupun aplikasi praktis, dilakukan dengan cara mendeskripsikan, memahami, dan menjelaskan unsur-unsur karya sastra dalam kaitannya dengan perubahan-perubahan struktur sosial yang terjadi di sekitarnya. Novel sebagai objek kajian lebih menggambarkan kehidupan sosio-budaya yang bersifat berkelanjutan dengan membentuk koherensi dari beragam aspek kehidupan masing-masing tokoh dalam bermasyarakat. Selanjutnya, novel memiliki hubungan yang erat dengan masalah-masalah sosial. Dalam sebuah penelitian, topik yang akan dikaji harus menarik dan bernilai guna. Sehubungan dengan uraian tersebut maka dalam karya ilmiah ini, penulis memilih novel Air Mata Terakhir Bunda novel karya Kirana Kejora.
Adapun alasan penulis memilih novel tersebut menjadi bahan analisis yaitu: (1) Luasnya wawasan dan pengalaman pengarang. (2) Topik dalam novel sesuai dengan fenomena yang pernah dan bahkan masih dialami oleh masyarakat di Indonesia. (3) Keunikan dan keragaman interpretasi dari pembaca. Dalam novel Air Mata Terakhir Bunda terdapat beberapa kasus, seperti halnya Lumpur lapindo yang berimplikasi pada masyarakat banyak, baik secara moral maupun secara materil. Kondisi pemerintahan yang tidak membuahkan kesejahteraan rakyat akan menimbulkan gerakan reformasi yang seringkali menimbulkan kerugian yang tidak sedikit.  Bencana lumpur Lapindo memang telah selesai & tak bisa lagi ditangisi. Ia sudah menjadi sejarah, masa lalu, dan dari masa lalulah kita belajar utk memotivasi diri, menata kembali kehidupan ini. Bagaimana perjalanan hidup dari seorang anak korban lumpur Lapindo. Kisah anak merindukan kehadiran Bapak mungkin sudah jamak. Tapi ternyata perjuangan hidup Ibunya untuk  mempertahankan hidup mereka di sebuah situasi absurd membuat sang anak  perlahan menDewikan sang Ibu. Diluar kisah sang anak dan ibunya, novel ini juga memberikan beberapa hal yang menambah wawasan pembacanya. Melihat berbagai aspek tersebut penulis ingin menemukan masalah-masalah tersebut sebagai upaya menemukan hal-hal yang berguna dalam penelitiannovel AMTB.

BAHAN DAN METODE
Penulis menggunakan novel AMTB ( Air Mata Terakhir Bunda) sebagai bahan pembuatan jurnal, unsur-unsur ekstrinsik berupa kasus Lumpur Lapindo dan dampak sosial yang terbatas pada dampak negatif yang merupakan implikasi yang terjadi dalam novel Air Mata Terakhir Bunda. Kemudian pembahasan dilanjutkan dengan menemukan hal-hal yang menjadi cerminan sosial bagi masyarakat. Metode menggunakan cara menganalisis sebuah novel berdasarkan sosiosastra lalu dari analisis tersebut tersusunlah sebuah jurnal.







HASIL
Dalam rangka hari ibu, 22 Desember 2011 tahun lalu. Terbit sebuah novel karangan Kirana Kejora, yaitu :
[No. 281]
Judul : Air Mata Terakhir Bunda
Penulis : Kirana Kejora
Penerbit : Hi-Fest Publishing
Cetakan : I, 2011
Tebal : 202 hlm
http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQ_S9JcLsHeI0lZ2sUtgWoe4yni_a4651h1VKbeOltWI2BlzLuVzUocG4xU



PEMBAHASAN
Doa ibu adalah segala hal bagi anak-anaknya. Ibu adalah tuhan kecil dengan ketulusan cintanya. Dia tak pernah mengharapkan balasan apa-apa dari anak-anaknya. Baginya tugasnya hanyalah memberi dan memberi. Mengandung, melahirkan, menyusui, merawat, membesarkan hingga menghantarkan anaknya menjadi manusia yang berguna adalah kewajiban dari cinta yang Tuhan titipkan padanya (hal 8).
Itulah gambaraan seorang ibu dimata penulis produktif asal Surabaya, Kirana ‘Key’ Kejora. Di novelnya yang ke 9 ini Key mengisahkan bagaimana doa, ketulusan, kasih sayang, dan kegigihan seorang ibu yang dalam kemiskinannya mampu melewati getirnya hidup dengan tegar hingga anak-anaknya dapat meraih cita-cita dan impiannya. Novel yang diadaptasi dari kisah nyata ini menceritakan perjalanan hidup seorang anak bernama Delta yang dibesarkan oleh seorang ibu yang begitu mencintainya.
Kisah dimulai dari, Sriyani, yaitu ibu dari Delta dan Iqbal adalah seorang single parent yang harus berjuang dengn keras membesarkan kedua anak laki-lakinya. Suaminya meninggalkannya begitu saja dan menikah kembali dengan wanita lain yang mapan dan sejak dulu menyukianya. Sementara hubungannya dengan Sriyani dibiarkannya menggantung tanpa status yang jelas.
Sementara suaminya hidup berkecukupan dengan wanita lain, Sriyani tertatih-tatih membesarkan kedua anak lelakinya. Dalam hati anaknya Delta ia selalu ingin bertanya-tanya tentang ayahnya kepada ibunya. Pernah suatu saat ia ingin bilang kepada ibunya, protes hatinya, Bapak punya toko sepatu bu. Kenapa dia tidak peduli dengan kita? Setahuku jika orang punya toko sepatu di Kludan, sudah pasti duitnya banyak, kaya. Lalu kenapa dia tidak mau membiayai hidup kita? Apakah salah jika aku datang ke sana minta sepatunya sepasang saja? Aku ingin ke sana, melihat bagaimana wajah bapak, bagaimana merasakan dipeluk seorang bapak. Tapi apakah mungkin dia tahu dan ingat bahwa aku adalah anak yang ditinggalkannya? Kenapa dia bisa melupakan kita bu? Kenapa?.
Walau hidup dalam kekurangan Sriyani pantang meminta bantuan dari suaminya yang meninggalkannya. Untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari dan membiayai sekolah kedua anaknya ia menjadi buruh cuci setrika sambil berjualan lontong kupang, makanan khas kota lumpur Sidoarjo yang ia jajakan sendiri dengan sepeda tuanya.
Walau hidup dalam kemiskinan namun Sriyani mendidik Delta dan Iqbal untuk tidak meratapi kemiskinan mereka. Ia tidak ingin melihat anaknya sedih dalam kemiskinan, dalam setiap kesempatan ia selalu menekankan pada kedua anaknya bahwa kemiskinan bukanlah petaka yang harus diratapi, tetapi harus dihadapi dengan bekerja dan bekerja.
Berbagai kesulitan hidup menerpa kehidupan mereka namun bagi Sriyani kemiskinan bukan halangan untuk membahagiakan anak-anaknya. Baginya dia selalu berusahan memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya dengan sederhana dan apa adanya. Dari ketegaran, kekuatan doa, dan cinta seorang ibu yang dahsyat inilah Delta tumbuh dan bersekolah hingga ke jenjang perguruan tinggi. Ketika gelar kesarjanaannya diraihnya, keinginannya terbesarnya adalah mempersembahkan gelarnya pada ibunya yang begitu mencintainya tanpa pamrih.
Di novel setebal 204 halaman ini pembaca akan diajak menyusuri kehidupan Delta dan ibunya. Kisah-kisah yang dihadirkan dalam setiap babnya merupakan mozaik kehidupan keluarga ini yang harus bergelut dengan kemiskinan untuk bertahan hidup. Dan ketika seluruh bab dalam novel ini selesai kita baca maka akan terbentuklah sebuah lukisan indah akan betapa agungnya ketulusan cinta seorang ibu pada anak-anaknya.
Walau menceritakan sebuah keluarga miskin namun novel yang juga mengambil setting terjadinya bencana lumpur Lapindo ini bukan novel yang cengeng, walau berjudul Air Mata Terakhir Bunda tidak ada kisah tangisan dalam novel ini karena seperti yang diungkapkan Delta tentang ibunya dalam novel ini
"Ibu tidak pernah menangis di depan kami, kalaupun ingin menangis, ibu hanya menggigit bibirnya kuat-kuat hingga berdarah, agar tangisnya tak terdengar oleh kami, anak-anak yang selalu dikuatkan dengan kata-kata. Jangan pernah menjual kesedihan dan tangismu hanya untuk masa depan, karena masa depan adalah rancangan, kehidupan adalah sekarang, hadapi!
Novel ini bukan novel yang bertangis-tangisan tetapi novel ini sanggup membuat haru pembacanya melalui dialog-dialog antar tokohnya. Selain itu novel ini juga menyampaikan pesan kehidupan tentang ketegaran sebuah keluarga yang tidak menyerah pada keadaannya dan ketulusan cinta dan pengorbanan seorang ibu yang tentunya akan menginspirasi kita semua.
Diluar kisah Delta dan ibunya, novel ini juga memberikan beberapa hal yang menambah wawasan pembacanya yaitu uraian kronologis mengenai penyebab terjadinya tragedi lumpur lapindo, kearifan lokal dari legenda misteri Candi Pari (candi purba di Siring-Porong), sejarah komedi putar pertama di dunia, hingga lontong kupang yang merupakan makanan khas kota lumpur Sidoarjo.
Sebagai sebuah novel yang mengangkat kisah perjuangan dan pengorbanan seorang ibu saya rasa novel ini berhasil mengungkapkan gambaran betapa dahsyatnya kekuatan doa dan cinta sejati seorang ibu pada anak-anaknya. Perjuangan ibunya melawan badai hidup, melindungi dan menyelamatkan anak-anaknya dari kemiskinan layak mendapatkan lancana emas lebih dari 24 karat jikalau ada! Kilau intan berlianpun tak akan mampu menandingi sinar jiwa, cahaya hati yang dimiliki ibunya untuk dia dan Iqbal. Senja kian merubung, Delta duduk tepekur menatap genangan lumpur, yang telah menjadi danau kuasa. Masa kecilnya terkubur. Tempat bermainnya tenggelam. Sekolahnya hilang. Rumahnyapun terbenam.
Hanya saja yang agak disayangkan novel ini saya rasa kurang memberi gambaran yang dramatis tentang tragedi lumpur Lapindo yang merupakan bagian dari setting kisah di novel ini. Dampak tragedi lumpur Lapindo memang terungkap dalam novel ini, namun yang diangkat adalah orang-orang diluar tokoh utamanya, lalu bagaimana dengan dampaknya bagi keluarga Sriyani? Rasanya tragedi ini seolah tak terlalu menyentuh kehidupan Sriyani dan keluarganya. Seperinya akan lebih dramatis jika tragedi ini menyentuh langsung kehidupan keluarga Sriyani sehingga tokoh Sriyani dan keluarganya dapat mewakili bagaimana menderitanya rakyat kecil akibat bencana yang saat ini masih terus berlangsung namun ironisnya sudah sudah mulai dilupakan orang.
Terlepas dari hal diatas novel ini tampaknya cukup berhasil menarik minat pembacanya, promo novel yang dilakukan secara gencar di berbagai kota dan sosial media berbuahkan hasil yang menggembirakan. Setelah 3 minggu beredar di toko-toko buku sebanyak 5000 ekslempar, novel ini dikabarkan siap untuk dicetak ulang. Sebuah pencapaian yang luar biasa untuk novel yang diterbitkan secara indie ini. Kabar terakhir, novel ini juga telah dipesan oleh sebuah BUMN untuk mendukung program yang berkaitan dengan keluarga.



KESIMPULAN
Air mata Terakhir bunda, sebuah novel inspiring berdasarkan kisah nyata. Kesederhanaan cinta yang maha dahsyat dari seorang ibu, orang tua tunggal dari anak-anak titipan Tuhan. Kegigihan, kejujuran, keikhlasan, adalah modal utamanya untuk meraih cita-cita dan cinta yang diharapkannya. Novel ini bukan bersedih melainkan bagaimana bisa tetap optimis menyapa masa depan. Perjuangan orang kecil yang menuliskan pelajaran besar yakni tak mudah menyerah dan tetap ingat siapa dirinya saat sudah ‘terbang’. Dengan semakin banyaknya orang yang membaca jurnal novel ini, ketabahan, kesabaran, dan doa seorang ibu dapat mengguhak kesadaran pembacanya untuk selalu menghargai peran seorang ibu sebagai pribadi istimewa yang dipercayakan oleh Tuhan untuk melahirkan dan membesarkan generasi penerus pewaris bumi ciptaanNya.

DAFTAR PUSTAKA

Kejora Kirana. 2011. Air Mata Terakhir Bunda. Jakarta : Hi-Fest Publishing

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Kamis, 24 Oktober 2013

Jurnal Air Mata Terakhir bunda

Jurnal Air Mata Terakhir bunda
ABSTRAK
Pada saat ini, bencana alam merupakan suatu hal yang tidak dapat dihindari. Baik sengaja maupun tidak, terkadang orang merasa tidak ambil pusing terhadap para korban bencana alam tersebut. Luapan lumpur yang terjadi di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur mungkin potret tragedi nasional yang lahir karena kecerobohan dan keserakahan. Lumpur lapindo yang belum juga terselesaikan menjadi latar belakang novel Air Mata Terakhir Bunda. Kisah sebuah keluarga yang menjadi korban lumpur lapindo. Perjuangan seorang ibu mempertahankan hidup keluarganya, pengorbanan besar demi anaknya tercinta. Kelembutan, ketulusan dan kejujuran sang ibu dapat memberikan kehidupan yang lebih baik di masa depan. Seorang wanita yang mampu memberikan keperkasaan dalam menjalani hidup, dan itulah yang membuat ibunya menjadi ratu di singgasana hati sang anak, dan tak bisa tergantikan walau ia segera menikah dengan wanita lain yang juga akan menjadi ratu di hatinya. Kemampuan menjalani perjalanan hidup yang sulit dari seorang ibu yang baik sangatlah penting bagi pembelajar kelak.
 Tindakan-tindakan dan dampak sosial yang harus mereka alami dan jalani dari lingkungannya yang ia dan anak-anaknya rasakan dalam  kegiatan sehari-hari. Menumbuhkan kesadaran pembaca dalam menghadapi sebuah realita kehidupan. Namun, kehidupan saat ini masih dirasakan konvensional, dimana manusia masih sering tidak bersyukur terhadap apa yang telah ia peroleh secara cuma-cuma. Pembelajar dalam novel AMTB membuat suatu renungan langsung tanpa proses yang sulit. Seringkali topik dalam novel diberikan terbatas sehingga kurang menarik, tidak menantang eksplorasi, kehilangan unsur inovasi dan kreasi. Namun sastra itu tampil sebagai cerminan sosial bagi masyarakat dan nilai-nilai sosial kemanusiaan terdapat dalam novel Air Mata Terakhir Bunda. Jurnal ini dibuat agar pembaca lebih dapat memahami maksud dari cerita tersebut. Menambah referensi bagi penelitian sosial (humaniora) untuk mendalami dan memahami kehidupan manusia dalam bermasyarakat. Metode penulisan yang digunakan adalah, dimana penulis menggunakan sebuah novel sebagai bahan untuk jurnal ini.
Secara keseluruhan jurnal yang meneliti novel Air Mata Terakhir Bunda ini dapat menambah kajian sastra dengan menerapkan teori sosiologi sastra. Memperkuat teori penelitian sastra sebagai bagian yang sama pentingnya dengan kajian sosial lainnya demi mengambil peranan dalam meningkatkan tatanan masyarakat yang lebih beradab. Mempermudah pembaca dalam menghayati, memperluas wawasan pembaca dalam berbagai hal dan menjadi inspiring bagi pembacanya.

PENDAHULUAN
“Karya sastra merupakan cermin dari sebuah realitas kehidupan sosial masyarakat. Dikatakan oleh Taine (dalam Endraswara, 2008:17) “sastra tidak hanya sekedar karya yang bersifat imajinatif dan pribadi, tetapi dapat pula merupakan cerminan atau rekaman budaya, suatu perwujudan pikiran tertentu pada saat karya itu dilahirkan”. Hal ini berarti setiap orang dapat melihat realitas sosial dalam sebuah  karya sastra bahkan sebagian karya sastra menjadi representasi terhadap kebudayaan masyarakat tertentu. Uraian ini menunjukkan bahwa karya sastra  tidak lahir begitu saja. Semua hal yang terangkum dalam karya sastra tidak terlepas dari berbagai problematik yang dialami manusia baik secara pribadi maupun secara kolektif. Disadari atau tidak karya sastra menjadi model bagi kehidupan pembaca. Setiap persoalan maupun gambaran hidup yang dialami tokoh dalam cerita  akan menimbulkan permenungan atau refleksi bagi pembaca dalam menentukan sikap dan tindakannya dalam kehidupan bermasyarakat. Hal inilah yang menguatkan teori bahwa penelitian sastra merupakan penelitian tentang manusia dalam masyarakat atau lebih erat dengan istilah sosiologi.
Sosiologi sastra adalah penelitian terhadap karya sastra dengan mempertimbangkan keterlibatan struktur sosialnya, sehingga penelitian sosiologi sastra, baik dalam bentuk penelitian ilmiah maupun aplikasi praktis, dilakukan dengan cara mendeskripsikan, memahami, dan menjelaskan unsur-unsur karya sastra dalam kaitannya dengan perubahan-perubahan struktur sosial yang terjadi di sekitarnya. Novel sebagai objek kajian lebih menggambarkan kehidupan sosio-budaya yang bersifat berkelanjutan dengan membentuk koherensi dari beragam aspek kehidupan masing-masing tokoh dalam bermasyarakat. Selanjutnya, novel memiliki hubungan yang erat dengan masalah-masalah sosial. Dalam sebuah penelitian, topik yang akan dikaji harus menarik dan bernilai guna. Sehubungan dengan uraian tersebut maka dalam karya ilmiah ini, penulis memilih novel Air Mata Terakhir Bunda novel karya Kirana Kejora.
Adapun alasan penulis memilih novel tersebut menjadi bahan analisis yaitu: (1) Luasnya wawasan dan pengalaman pengarang. (2) Topik dalam novel sesuai dengan fenomena yang pernah dan bahkan masih dialami oleh masyarakat di Indonesia. (3) Keunikan dan keragaman interpretasi dari pembaca. Dalam novel Air Mata Terakhir Bunda terdapat beberapa kasus, seperti halnya Lumpur lapindo yang berimplikasi pada masyarakat banyak, baik secara moral maupun secara materil. Kondisi pemerintahan yang tidak membuahkan kesejahteraan rakyat akan menimbulkan gerakan reformasi yang seringkali menimbulkan kerugian yang tidak sedikit.  Bencana lumpur Lapindo memang telah selesai & tak bisa lagi ditangisi. Ia sudah menjadi sejarah, masa lalu, dan dari masa lalulah kita belajar utk memotivasi diri, menata kembali kehidupan ini. Bagaimana perjalanan hidup dari seorang anak korban lumpur Lapindo. Kisah anak merindukan kehadiran Bapak mungkin sudah jamak. Tapi ternyata perjuangan hidup Ibunya untuk  mempertahankan hidup mereka di sebuah situasi absurd membuat sang anak  perlahan menDewikan sang Ibu. Diluar kisah sang anak dan ibunya, novel ini juga memberikan beberapa hal yang menambah wawasan pembacanya. Melihat berbagai aspek tersebut penulis ingin menemukan masalah-masalah tersebut sebagai upaya menemukan hal-hal yang berguna dalam penelitiannovel AMTB.

BAHAN DAN METODE
Penulis menggunakan novel AMTB ( Air Mata Terakhir Bunda) sebagai bahan pembuatan jurnal, unsur-unsur ekstrinsik berupa kasus Lumpur Lapindo dan dampak sosial yang terbatas pada dampak negatif yang merupakan implikasi yang terjadi dalam novel Air Mata Terakhir Bunda. Kemudian pembahasan dilanjutkan dengan menemukan hal-hal yang menjadi cerminan sosial bagi masyarakat. Metode menggunakan cara menganalisis sebuah novel berdasarkan sosiosastra lalu dari analisis tersebut tersusunlah sebuah jurnal.







HASIL
Dalam rangka hari ibu, 22 Desember 2011 tahun lalu. Terbit sebuah novel karangan Kirana Kejora, yaitu :
[No. 281]
Judul : Air Mata Terakhir Bunda
Penulis : Kirana Kejora
Penerbit : Hi-Fest Publishing
Cetakan : I, 2011
Tebal : 202 hlm
http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQ_S9JcLsHeI0lZ2sUtgWoe4yni_a4651h1VKbeOltWI2BlzLuVzUocG4xU



PEMBAHASAN
Doa ibu adalah segala hal bagi anak-anaknya. Ibu adalah tuhan kecil dengan ketulusan cintanya. Dia tak pernah mengharapkan balasan apa-apa dari anak-anaknya. Baginya tugasnya hanyalah memberi dan memberi. Mengandung, melahirkan, menyusui, merawat, membesarkan hingga menghantarkan anaknya menjadi manusia yang berguna adalah kewajiban dari cinta yang Tuhan titipkan padanya (hal 8).
Itulah gambaraan seorang ibu dimata penulis produktif asal Surabaya, Kirana ‘Key’ Kejora. Di novelnya yang ke 9 ini Key mengisahkan bagaimana doa, ketulusan, kasih sayang, dan kegigihan seorang ibu yang dalam kemiskinannya mampu melewati getirnya hidup dengan tegar hingga anak-anaknya dapat meraih cita-cita dan impiannya. Novel yang diadaptasi dari kisah nyata ini menceritakan perjalanan hidup seorang anak bernama Delta yang dibesarkan oleh seorang ibu yang begitu mencintainya.
Kisah dimulai dari, Sriyani, yaitu ibu dari Delta dan Iqbal adalah seorang single parent yang harus berjuang dengn keras membesarkan kedua anak laki-lakinya. Suaminya meninggalkannya begitu saja dan menikah kembali dengan wanita lain yang mapan dan sejak dulu menyukianya. Sementara hubungannya dengan Sriyani dibiarkannya menggantung tanpa status yang jelas.
Sementara suaminya hidup berkecukupan dengan wanita lain, Sriyani tertatih-tatih membesarkan kedua anak lelakinya. Dalam hati anaknya Delta ia selalu ingin bertanya-tanya tentang ayahnya kepada ibunya. Pernah suatu saat ia ingin bilang kepada ibunya, protes hatinya, Bapak punya toko sepatu bu. Kenapa dia tidak peduli dengan kita? Setahuku jika orang punya toko sepatu di Kludan, sudah pasti duitnya banyak, kaya. Lalu kenapa dia tidak mau membiayai hidup kita? Apakah salah jika aku datang ke sana minta sepatunya sepasang saja? Aku ingin ke sana, melihat bagaimana wajah bapak, bagaimana merasakan dipeluk seorang bapak. Tapi apakah mungkin dia tahu dan ingat bahwa aku adalah anak yang ditinggalkannya? Kenapa dia bisa melupakan kita bu? Kenapa?.
Walau hidup dalam kekurangan Sriyani pantang meminta bantuan dari suaminya yang meninggalkannya. Untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari dan membiayai sekolah kedua anaknya ia menjadi buruh cuci setrika sambil berjualan lontong kupang, makanan khas kota lumpur Sidoarjo yang ia jajakan sendiri dengan sepeda tuanya.
Walau hidup dalam kemiskinan namun Sriyani mendidik Delta dan Iqbal untuk tidak meratapi kemiskinan mereka. Ia tidak ingin melihat anaknya sedih dalam kemiskinan, dalam setiap kesempatan ia selalu menekankan pada kedua anaknya bahwa kemiskinan bukanlah petaka yang harus diratapi, tetapi harus dihadapi dengan bekerja dan bekerja.
Berbagai kesulitan hidup menerpa kehidupan mereka namun bagi Sriyani kemiskinan bukan halangan untuk membahagiakan anak-anaknya. Baginya dia selalu berusahan memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya dengan sederhana dan apa adanya. Dari ketegaran, kekuatan doa, dan cinta seorang ibu yang dahsyat inilah Delta tumbuh dan bersekolah hingga ke jenjang perguruan tinggi. Ketika gelar kesarjanaannya diraihnya, keinginannya terbesarnya adalah mempersembahkan gelarnya pada ibunya yang begitu mencintainya tanpa pamrih.
Di novel setebal 204 halaman ini pembaca akan diajak menyusuri kehidupan Delta dan ibunya. Kisah-kisah yang dihadirkan dalam setiap babnya merupakan mozaik kehidupan keluarga ini yang harus bergelut dengan kemiskinan untuk bertahan hidup. Dan ketika seluruh bab dalam novel ini selesai kita baca maka akan terbentuklah sebuah lukisan indah akan betapa agungnya ketulusan cinta seorang ibu pada anak-anaknya.
Walau menceritakan sebuah keluarga miskin namun novel yang juga mengambil setting terjadinya bencana lumpur Lapindo ini bukan novel yang cengeng, walau berjudul Air Mata Terakhir Bunda tidak ada kisah tangisan dalam novel ini karena seperti yang diungkapkan Delta tentang ibunya dalam novel ini
"Ibu tidak pernah menangis di depan kami, kalaupun ingin menangis, ibu hanya menggigit bibirnya kuat-kuat hingga berdarah, agar tangisnya tak terdengar oleh kami, anak-anak yang selalu dikuatkan dengan kata-kata. Jangan pernah menjual kesedihan dan tangismu hanya untuk masa depan, karena masa depan adalah rancangan, kehidupan adalah sekarang, hadapi!
Novel ini bukan novel yang bertangis-tangisan tetapi novel ini sanggup membuat haru pembacanya melalui dialog-dialog antar tokohnya. Selain itu novel ini juga menyampaikan pesan kehidupan tentang ketegaran sebuah keluarga yang tidak menyerah pada keadaannya dan ketulusan cinta dan pengorbanan seorang ibu yang tentunya akan menginspirasi kita semua.
Diluar kisah Delta dan ibunya, novel ini juga memberikan beberapa hal yang menambah wawasan pembacanya yaitu uraian kronologis mengenai penyebab terjadinya tragedi lumpur lapindo, kearifan lokal dari legenda misteri Candi Pari (candi purba di Siring-Porong), sejarah komedi putar pertama di dunia, hingga lontong kupang yang merupakan makanan khas kota lumpur Sidoarjo.
Sebagai sebuah novel yang mengangkat kisah perjuangan dan pengorbanan seorang ibu saya rasa novel ini berhasil mengungkapkan gambaran betapa dahsyatnya kekuatan doa dan cinta sejati seorang ibu pada anak-anaknya. Perjuangan ibunya melawan badai hidup, melindungi dan menyelamatkan anak-anaknya dari kemiskinan layak mendapatkan lancana emas lebih dari 24 karat jikalau ada! Kilau intan berlianpun tak akan mampu menandingi sinar jiwa, cahaya hati yang dimiliki ibunya untuk dia dan Iqbal. Senja kian merubung, Delta duduk tepekur menatap genangan lumpur, yang telah menjadi danau kuasa. Masa kecilnya terkubur. Tempat bermainnya tenggelam. Sekolahnya hilang. Rumahnyapun terbenam.
Hanya saja yang agak disayangkan novel ini saya rasa kurang memberi gambaran yang dramatis tentang tragedi lumpur Lapindo yang merupakan bagian dari setting kisah di novel ini. Dampak tragedi lumpur Lapindo memang terungkap dalam novel ini, namun yang diangkat adalah orang-orang diluar tokoh utamanya, lalu bagaimana dengan dampaknya bagi keluarga Sriyani? Rasanya tragedi ini seolah tak terlalu menyentuh kehidupan Sriyani dan keluarganya. Seperinya akan lebih dramatis jika tragedi ini menyentuh langsung kehidupan keluarga Sriyani sehingga tokoh Sriyani dan keluarganya dapat mewakili bagaimana menderitanya rakyat kecil akibat bencana yang saat ini masih terus berlangsung namun ironisnya sudah sudah mulai dilupakan orang.
Terlepas dari hal diatas novel ini tampaknya cukup berhasil menarik minat pembacanya, promo novel yang dilakukan secara gencar di berbagai kota dan sosial media berbuahkan hasil yang menggembirakan. Setelah 3 minggu beredar di toko-toko buku sebanyak 5000 ekslempar, novel ini dikabarkan siap untuk dicetak ulang. Sebuah pencapaian yang luar biasa untuk novel yang diterbitkan secara indie ini. Kabar terakhir, novel ini juga telah dipesan oleh sebuah BUMN untuk mendukung program yang berkaitan dengan keluarga.



KESIMPULAN
Air mata Terakhir bunda, sebuah novel inspiring berdasarkan kisah nyata. Kesederhanaan cinta yang maha dahsyat dari seorang ibu, orang tua tunggal dari anak-anak titipan Tuhan. Kegigihan, kejujuran, keikhlasan, adalah modal utamanya untuk meraih cita-cita dan cinta yang diharapkannya. Novel ini bukan bersedih melainkan bagaimana bisa tetap optimis menyapa masa depan. Perjuangan orang kecil yang menuliskan pelajaran besar yakni tak mudah menyerah dan tetap ingat siapa dirinya saat sudah ‘terbang’. Dengan semakin banyaknya orang yang membaca jurnal novel ini, ketabahan, kesabaran, dan doa seorang ibu dapat mengguhak kesadaran pembacanya untuk selalu menghargai peran seorang ibu sebagai pribadi istimewa yang dipercayakan oleh Tuhan untuk melahirkan dan membesarkan generasi penerus pewaris bumi ciptaanNya.

DAFTAR PUSTAKA

Kejora Kirana. 2011. Air Mata Terakhir Bunda. Jakarta : Hi-Fest Publishing

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar