Kamis, 24 Oktober 2013

ANALISIS PSIKOSASTRA Klasifikasi emosi

NAMA                            : APRILINA SAVITRI
SEMESTER                             : VA
ANALISIS PSIKOSASTRA Klasifikasi emosi
Pengarang yang sedang menulis cerita pasti akan menuangkan gagasannya, dan di dalam sebuah gagasan tentunya terdapat banyak klasifikasi emosi. Tanpa klasifikasi emosi sebuah cerpen akan terasa hambar. Kali ini kita akan menganalisis klasifikasi emosi “Kesedihan dan Cinta” yang mendasari cerpen yang dibuat Habibirrahman.
Kesedihan pada cerpen Ketika Cinta Berbuah Surga sesungguhnya terletak pada persoalan Said yang ingin mencari teman sejati. Berulang kali ia menguji seseorang yang akan dijadikan teman sejatinya, namun selalu gagal. Gambaran ini terletak pada kutipan berikut ini :
·         Mula-mula ia mengundang anak-anak para pembesar kerajaan satu per satu. Sebagian besar dari mereka marah-marah karena hidangnya tidak keluar-keluar. Bahkan, ada yang pulang tanpa pamit dengan hati kesal.
·         Diantara teman anak raja itu, ada seorang bernama Adil. Dia anak seorang menteri. Said melihat sepertinya Adil anak yang baik hati dan setia. Maka dia ingin mengujinya. Diundanglah Adil untuk makan pagi. Adil memang menunggu keluarnya hidangan dengan setia. Setelah dirasa cukup, Said mengeluarkan sebuah piring berisi tiga telur rebus. Melihat itu, Adil berkata keras,”;Hanya ini sarapan kita? Ini tidak cukup mengisi perutku!”. Adil tidak mau menyentuh telur itu. Dia pergi begitu saja meniggalkan Said sendirian. Said diam. Dia tidak perlu meminta maaf kepada Adil karena meremehkan makanan yang telah dia rebus dengan kedua tangannya. Dia mengerti bahwa Adil tidak lapang dada dan tidak cocok untuk menjadi teman sejati.
Disini sang pengarang juga memberi solusinya tentang kesedihan yang tidak boleh terlalu lama, dalam cerpen tersebut Said diceritakan bangkit dari kesedihannya dan terus berjuang dengan mencoba hal yang baru.
seperti dalam kutipan :
Akhirnya, Said berpikir untuk mencari teman di luar istana. Kemudian, mulailah Said berpetualang melewati hutan, ladang, sawah, dan kampung-kampung untuk mencari seorang teman yang baik.
Rasa cinta pada cerpen Ketika Cinta Berbuah Surga terletak di beberapa bagian, yaitu : Rasa cinta seorang ayah kepada anaknya, yang menginginkan si anak mencari teman sejati untuk kebahagiaan hidupnya kelak. Rasa cinta Said kepada Abdullah yang sudah dianggap menjadi saudaranya. Gambaran ini terletak pada kutipan berikut ini :
·         Seorang Raja memberi nasihat kepada anaknya, “Said,  Anakku, sudah saatnya kamu mencari teman sejati yang setia dalam suka dan duka. Seorang teman baik, yang akan membantumu untuk menjadi orang baik. Teman sejati yang bisa kau ajak bercinta untuk surga”. Said tersentak mendengar perkataan ayahnya, “Apa maksud Ayah dengan teman yang bisa diajak bercinta untuk surga?” tanyanya dengan nada penasaran. Raja pun menjawab,” Dia adalah teman sejati yang benar-benar mau berteman denganmu, bukan karena derajatmu, tatapi karena kemurnian cinta itu sendiri, yang tercipta dari keikhlasan hati. Dia mencintaimu karena Allah. Dan Dengan dasar itu kau pun bisa mencintainya dengan penuh keikhlasan karena Allah. Kekuatan cinta kalian akan melahirkan kekuaan dahsyat yang membawa manfaat dan kebaikan. Kekuatan cinta itu juga akan bersinar dan membawa kalian masuk surga”.
Kemudian rasa cinta, yang lainnya yaitu :
·         Sejak itu, keduanya berteman dan bersahabat dengan sangat akrab. Persahabatan meraka melebihi saudara kandung. Mereka saling mencintai dan saling menghormati karena Allah swt. Karena kekuatan cinta itu mereka bahkan sempat bertahun-tahun mengembara bersama untuk belajar dan berguru kepada para ulama yang tersebar di Turki, di Syiria, di Irak, di Mesir dan di Yaman.
Pembuktian rasa cinta lainnya:
·         Lalu, dia membelah telur itu jadi dua. Yang satu dia pegang dan yang satunya lagi, dia berikan kepada Said.
·         Malam harinya, sengaja ia tidak makan dan melaparkan perutnya agar paginya bisa makan sebanyak mungkin. Ketika matahari sudah condong ke Barat, Said berpamitan kepada sahabatnya itu untuk pulang.
·         Sejak hari itu, mereka bermain bersama,  pergi ke hutan bersama ,memancing bersama, dan berburu kelinci bersama. Anak tukang kayu itu mengajarinya berenang di sungai, menggunakan panah dan memanjat pohon di hutan. Said sangat gembira sekali berteman dengan anak yang cerdas, rendah hati, lapang dada dan setia. Akhirnya, dia kembali ke istana dengan hati gembira.
Bagian terakhir cerita ini ternyata menarik. Menarik karena adanya kejutan (surprise). Kejutannya itu terletak pemecahan masalahnya, yaitu ketika Abdullah diundang makan di istana oleh Said, dan disana Said pun menyadari bahwa Rasa Cinta Abdullah sangat besar kepadanya. Berikut kutipannya :
·         Akhirnya, tiga butir telur masak pun dihidangkan. Said mempersilahkan temannya untuk memulai makan. Anak pencari kayu bakar itu mengambil satu. Lalu, dia mengupas kulitnya pelan-pelan. Sementara Said mengupas dengan cepat dan menyantapnya. Lalu dengan sengaja Said mengambil yang ketiga, mengupasnya dengan cepat dan melahapnya. Temannya selesai mengupas telur. Said ingin melihat apa yang akan dilakukan temannya dengan sebutir telur itu, apakah akan dimakannya sendiri atau Anak miskin itu mengambil pisau yang ada di dekat situ. Lalu, dia membelah telur itu jadi dua. Yang satu dia pegang dan yang satunya lagi, dia berikan kepada Said. Tidak ayal lagi, Said menangis terharu. Lalu Said pun memeluk anak pencari kayu bakar itu erat-erat seraya berkata, ”Engkau teman sejatiku! Engkau teman sejatiku! Engkau temanku masuk surga!”.
Di Dalam cerpen ini ternyata pengarang menggunakan kata-kata yang biasa digunakan dalam bidang keagamaan (Islam), Allah SWT, mengaji, Sholat. Sang pengarang dengan apik dapat membuat sebuah cerpen sastra, yang didalamnya terdapat Sumber-sumber emosi dan suasana hati yang terdiri dari : Kepribadian, aktivitas sosial, usia, gender dsb.
Klasifikasi Emosi yang ada dalam cerpen ini memuat kesedihan Said yang berulang kali gagal dalam mencari teman sejati, dan kekecewaannya yang sangat besar terhadap orang-orang yang ada disekitarnya, ternyata tidak ada yang tulus mencintainya. Dia juga mengalami penyesalan karena tidak dapat memenuhi permintaan ayahnya untuk mencari teman sejati. Sedangkan Rasa cinta dalam novel ini muncul bertubi-tubi setelah Said berusaha bangkit dari kesedihannya dan berjuang kembali demi mendapatkan keinginannya.
Cinta dalam cerpen ini bukan seperti cinta layaknya sepasang kekasih, namun cinta antara ayah kepada anaknya, dan antara dua orang sahabat yang sama-sama mencintai Allah SWT. Cinta yang diikuti perasaan setia, tidak mementingkan diri sendiri dsb.

Membaca cerpen ini, kita dapat mempelajari banyak hal, salah satunya kita dapat mengendalikan dan mengelola emosi kita dengan baik untuk kebahagiaan kita sendiri dan tentunya dilandasi dengan faktor agama yang kuat. Pengarang juga menggambarkan jika kita bersahabat seharusnya setia sekata, tidak membanding-bandingkan satu dengan yang lain, harus saling menyayangi, menerima kekurangan dan kelebihan sahabat kita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Kamis, 24 Oktober 2013

ANALISIS PSIKOSASTRA Klasifikasi emosi

NAMA                            : APRILINA SAVITRI
SEMESTER                             : VA
ANALISIS PSIKOSASTRA Klasifikasi emosi
Pengarang yang sedang menulis cerita pasti akan menuangkan gagasannya, dan di dalam sebuah gagasan tentunya terdapat banyak klasifikasi emosi. Tanpa klasifikasi emosi sebuah cerpen akan terasa hambar. Kali ini kita akan menganalisis klasifikasi emosi “Kesedihan dan Cinta” yang mendasari cerpen yang dibuat Habibirrahman.
Kesedihan pada cerpen Ketika Cinta Berbuah Surga sesungguhnya terletak pada persoalan Said yang ingin mencari teman sejati. Berulang kali ia menguji seseorang yang akan dijadikan teman sejatinya, namun selalu gagal. Gambaran ini terletak pada kutipan berikut ini :
·         Mula-mula ia mengundang anak-anak para pembesar kerajaan satu per satu. Sebagian besar dari mereka marah-marah karena hidangnya tidak keluar-keluar. Bahkan, ada yang pulang tanpa pamit dengan hati kesal.
·         Diantara teman anak raja itu, ada seorang bernama Adil. Dia anak seorang menteri. Said melihat sepertinya Adil anak yang baik hati dan setia. Maka dia ingin mengujinya. Diundanglah Adil untuk makan pagi. Adil memang menunggu keluarnya hidangan dengan setia. Setelah dirasa cukup, Said mengeluarkan sebuah piring berisi tiga telur rebus. Melihat itu, Adil berkata keras,”;Hanya ini sarapan kita? Ini tidak cukup mengisi perutku!”. Adil tidak mau menyentuh telur itu. Dia pergi begitu saja meniggalkan Said sendirian. Said diam. Dia tidak perlu meminta maaf kepada Adil karena meremehkan makanan yang telah dia rebus dengan kedua tangannya. Dia mengerti bahwa Adil tidak lapang dada dan tidak cocok untuk menjadi teman sejati.
Disini sang pengarang juga memberi solusinya tentang kesedihan yang tidak boleh terlalu lama, dalam cerpen tersebut Said diceritakan bangkit dari kesedihannya dan terus berjuang dengan mencoba hal yang baru.
seperti dalam kutipan :
Akhirnya, Said berpikir untuk mencari teman di luar istana. Kemudian, mulailah Said berpetualang melewati hutan, ladang, sawah, dan kampung-kampung untuk mencari seorang teman yang baik.
Rasa cinta pada cerpen Ketika Cinta Berbuah Surga terletak di beberapa bagian, yaitu : Rasa cinta seorang ayah kepada anaknya, yang menginginkan si anak mencari teman sejati untuk kebahagiaan hidupnya kelak. Rasa cinta Said kepada Abdullah yang sudah dianggap menjadi saudaranya. Gambaran ini terletak pada kutipan berikut ini :
·         Seorang Raja memberi nasihat kepada anaknya, “Said,  Anakku, sudah saatnya kamu mencari teman sejati yang setia dalam suka dan duka. Seorang teman baik, yang akan membantumu untuk menjadi orang baik. Teman sejati yang bisa kau ajak bercinta untuk surga”. Said tersentak mendengar perkataan ayahnya, “Apa maksud Ayah dengan teman yang bisa diajak bercinta untuk surga?” tanyanya dengan nada penasaran. Raja pun menjawab,” Dia adalah teman sejati yang benar-benar mau berteman denganmu, bukan karena derajatmu, tatapi karena kemurnian cinta itu sendiri, yang tercipta dari keikhlasan hati. Dia mencintaimu karena Allah. Dan Dengan dasar itu kau pun bisa mencintainya dengan penuh keikhlasan karena Allah. Kekuatan cinta kalian akan melahirkan kekuaan dahsyat yang membawa manfaat dan kebaikan. Kekuatan cinta itu juga akan bersinar dan membawa kalian masuk surga”.
Kemudian rasa cinta, yang lainnya yaitu :
·         Sejak itu, keduanya berteman dan bersahabat dengan sangat akrab. Persahabatan meraka melebihi saudara kandung. Mereka saling mencintai dan saling menghormati karena Allah swt. Karena kekuatan cinta itu mereka bahkan sempat bertahun-tahun mengembara bersama untuk belajar dan berguru kepada para ulama yang tersebar di Turki, di Syiria, di Irak, di Mesir dan di Yaman.
Pembuktian rasa cinta lainnya:
·         Lalu, dia membelah telur itu jadi dua. Yang satu dia pegang dan yang satunya lagi, dia berikan kepada Said.
·         Malam harinya, sengaja ia tidak makan dan melaparkan perutnya agar paginya bisa makan sebanyak mungkin. Ketika matahari sudah condong ke Barat, Said berpamitan kepada sahabatnya itu untuk pulang.
·         Sejak hari itu, mereka bermain bersama,  pergi ke hutan bersama ,memancing bersama, dan berburu kelinci bersama. Anak tukang kayu itu mengajarinya berenang di sungai, menggunakan panah dan memanjat pohon di hutan. Said sangat gembira sekali berteman dengan anak yang cerdas, rendah hati, lapang dada dan setia. Akhirnya, dia kembali ke istana dengan hati gembira.
Bagian terakhir cerita ini ternyata menarik. Menarik karena adanya kejutan (surprise). Kejutannya itu terletak pemecahan masalahnya, yaitu ketika Abdullah diundang makan di istana oleh Said, dan disana Said pun menyadari bahwa Rasa Cinta Abdullah sangat besar kepadanya. Berikut kutipannya :
·         Akhirnya, tiga butir telur masak pun dihidangkan. Said mempersilahkan temannya untuk memulai makan. Anak pencari kayu bakar itu mengambil satu. Lalu, dia mengupas kulitnya pelan-pelan. Sementara Said mengupas dengan cepat dan menyantapnya. Lalu dengan sengaja Said mengambil yang ketiga, mengupasnya dengan cepat dan melahapnya. Temannya selesai mengupas telur. Said ingin melihat apa yang akan dilakukan temannya dengan sebutir telur itu, apakah akan dimakannya sendiri atau Anak miskin itu mengambil pisau yang ada di dekat situ. Lalu, dia membelah telur itu jadi dua. Yang satu dia pegang dan yang satunya lagi, dia berikan kepada Said. Tidak ayal lagi, Said menangis terharu. Lalu Said pun memeluk anak pencari kayu bakar itu erat-erat seraya berkata, ”Engkau teman sejatiku! Engkau teman sejatiku! Engkau temanku masuk surga!”.
Di Dalam cerpen ini ternyata pengarang menggunakan kata-kata yang biasa digunakan dalam bidang keagamaan (Islam), Allah SWT, mengaji, Sholat. Sang pengarang dengan apik dapat membuat sebuah cerpen sastra, yang didalamnya terdapat Sumber-sumber emosi dan suasana hati yang terdiri dari : Kepribadian, aktivitas sosial, usia, gender dsb.
Klasifikasi Emosi yang ada dalam cerpen ini memuat kesedihan Said yang berulang kali gagal dalam mencari teman sejati, dan kekecewaannya yang sangat besar terhadap orang-orang yang ada disekitarnya, ternyata tidak ada yang tulus mencintainya. Dia juga mengalami penyesalan karena tidak dapat memenuhi permintaan ayahnya untuk mencari teman sejati. Sedangkan Rasa cinta dalam novel ini muncul bertubi-tubi setelah Said berusaha bangkit dari kesedihannya dan berjuang kembali demi mendapatkan keinginannya.
Cinta dalam cerpen ini bukan seperti cinta layaknya sepasang kekasih, namun cinta antara ayah kepada anaknya, dan antara dua orang sahabat yang sama-sama mencintai Allah SWT. Cinta yang diikuti perasaan setia, tidak mementingkan diri sendiri dsb.

Membaca cerpen ini, kita dapat mempelajari banyak hal, salah satunya kita dapat mengendalikan dan mengelola emosi kita dengan baik untuk kebahagiaan kita sendiri dan tentunya dilandasi dengan faktor agama yang kuat. Pengarang juga menggambarkan jika kita bersahabat seharusnya setia sekata, tidak membanding-bandingkan satu dengan yang lain, harus saling menyayangi, menerima kekurangan dan kelebihan sahabat kita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar